Surat untukmu, lagi
Hi, its me, again. Woah sudah lama bukan semenjak terakhir aku membuat tulisan tentang dirimu. And now, here we go again!
Sepertinya kebiasaan untuk mengirimkanmu pesan tidak semudah itu untuk menghilangkannya, untukku, mengirimkanmu pesan saat aku bosan, sedih, senang apapun keadaanku menjadi keharusan.
Jadi.. bagaimana kabarmu, sepertinya dirimu masih mempertahankan prinsipmu untuk senantiasa membaca pesanku tanpa ingin membalasnya, namun tak apa, aku sudah terbiasa.
Kamu tahu? Aku tertawa keras saat aku tahu dirimu tidak pernah sebenarnya pacaran, penuturan dari temanmu membuatku sedikit bahagia. Sekarang aku tahu arti dari sikap canggungmu saat dirimu berhadapan dengan perempuan, seperti mengelak dan menghindari tatapan. Seingatku saat kita MTs.
Sempurna, satu kata yang cocok untuk dirimu. Ya, kamu sempurna untuk orang yang akan kamu temani nanti, sikap canggungmu itu menggemaskan kamu tahu itu?
Ah, kamu terlalu luar biasa untukku yang biasa saja, aku yang terlalu blak-blakan untuk sifatmu yang tertutup, aku yang overactive untuk dirimu yang lebih senang untuk tidur dan berdiam diri di rumah.
Sepertinya aku terlalu stres dan gila untuk dirimu yang normal, namun tak apa.
By the way, teman-temanku seluruhnya tahu tentang aku yang telah mencintaimu lebih dari 6 tahun ini, gila bukan? Siapa yang sanggup mencintai sampai segila ini? Padahal diri ini tahu bahwa kamu dan aku itu mustahil, aku juga merasa bahwa aku tak pantas untuk siapa-siapa lagi.
Abang, someday jika aku sudah menyerah apakah kamu akan lega bahwa orang yang mengganggu malammu akhirnya telah hilang, musnah, ditelan kehampaan dan ketidak berdayaan. Suatu saat apakah kamu akan bahagia dan aku juga akan bahagia dengan pilihan kita masing-masing?
Namun sejujurnya aku belum menyerah, aku masih ingin mendekap dingin tubuhmu, aku masih ingin menyemangatimu, ah aku juga ingat bahwa 2 dari temanmu meminta aku untuk menyemangatimu, walau aku tak mengirimkan pesan semangat untukmu karena terlalu malu terhadap sikapku selama ini kepadamu, aku sadar bahwa memaksa itu tidak akan berakhir baik, aku sangat tahu akan hal itu, tetapi, bolehkah aku mencoba sampai kamu menemukan kebahagiaanmu. Ralat, kebahagiaan kita berdua, aku bahagia jika dirimu bahagia.
Bulan ini kamu tes lagi bukan? Aku tidak tahu kapan pastinya namun aku akan menyemangatimu dalam tulisan ini, doaku menyertaimu bang. Aku tahu kamu juga tidak nyaman bukan jika aku terus mengirimkan pesan panjang yang seperti orang gila itu.
Dengan ini kusampaikan semangat untuk first love ku, semoga bahagia ya!

Komentar
Posting Komentar