Teruntuk Akhir dari Kita
Kamu tahu kalau aku beberapa bulan ini menyangkal cintamu? Kita masih sama ternyata, ego kita masih belum padam, pada akhirnya aku hanya segelintir manusia yang kamu anggap remeh. Kamu tahu sendiri bukan? Diri ini tidak suka diremehkan, apa menurutmu perasaanku hanya sesuatu hal yang bisa kamu remehkan dan gampangkan? Bukan. Saat kamu menghadapi marahku, kamu juga sedang menghadapi aku yang kecil tapi kamu tidak mau mengerti.
Terkadang saat menghadapimu aku merasa sedang berbincang dengan tembok, aku bahkan tidak yakin bahwa kamu mendengarkan dan mengerti apa yang aku utarakan, sama seperti saat memberimu peringatan. N, aku ragu akan cintamu, apa kamu masih mencintaiku atau tidak, apakah kamu hanya tidak mau orang yang di sampingmu pergi atau bukan semua itu berputar dikepalaku bagai kaset rusak, semua yang terjadi menyinggung, semua yang kau lakukan menganggu pikiranku aku bahkan berpikir apakah saat ini kamu sedang bersama perempuan lain? apakah kamu kembali meraih warna kemerahan yang bagai senja itu? Aku tidak tahu.. Aku takut namun aku lelah, aku lelah menghadapimu, aku lelah dengan ketidakpedulianmu padaku seperti sekarang.
N, aku masih kekanak-kanakan, walaupun umurku sudah kepala 2 namun aku masih belum dewasa, aku berantakan, mudah menangis saat mengerjakan tugas dan sentimetal tentang semua yang terjadi dalam hidupku, aku lelah, aku sedang berada di bawah kenapa kamu tidak meraihku seperti aku meraihmu dulu? Kenapa hanya aku yang bersemangat tentang hubungan ini? Kenapa kamu tidak memberikan aku feedback atas semua usaha yang kulakukan? Kenapa kamu tidak bersemangat atas ulang tahunku seperti aku merayakan ulang tahunmu? Aku tidak mengharapkan hadiah atau kue atau apa pun itu namun, apakah sekedar ucapan begitu sulit untuk kamu berikan? Aku hanya ingin kamu mengucapkan Selamat Ulang Tahun pertama sebelum orang lain, apakah sesulit itu? Semua pertanyaan itu membanjiri pikiranku membuatku lelah.
Kenapa aku terus yang harus memaklumimu? Kenapa aku yang terus kamu paksa untuk memaklumi semua hal yang terjadi di hidupmu yang penuh likaliku? Bagaimana dengan aku? Bagaimana perasaanku? aku juga ingin dimaklumi, aku juga ingin terus dimengerti tapi kenapa "Mengerti dulu, ya? aku sedang banyak masalah" Masalahku bagaimana? Apakah tidak penting bagimu? "Sabar dulu ya, mental aku lagi gak stabil" Mentalku bagaimana? Apakah kamu pikir mentalku baik-baik saja? "Jangan bikin masalah atau ngajak ribut dulu" Aku tidak akan membuat masalah kalau kamu dengar apa yang aku bicarakan, N. Namun kamu selalu begitu, kamu selalu minta dimengerti sedangkan aku tidak punya kesempatan untuk dimengerti. Kita kurang komunikasi bukan? Karena setiap permasalahan entah aku tahu kamu memilih diam, saat salah seorang dari kita mulai berbicara tidak didengar selalu seperti itu sampai akhirnya kamu memilih adu nasib sedangkan aku dipaksa mengerti.
N, kita berakhir. Aku lelah. Sampai bertemu di versi terbaik kita masing-masing (Jika kita kembali bertemu).
Dengan hati yang patah
not yours hanna anymore



Komentar
Posting Komentar